Kamis, 15 Maret 2012

Cahaya Keikhlasan


 

A Story of Hanung Bramantyo which I accidentally cover again with my own writing...

Seorang anak laki-laki remaja bernama Arya sangat menyayangi Ayahnya, Semua keluh kesahnya selalu ia bagikan kepada sang ayah tercinta. Hingga pada saat malam tiba, Arya merasakan perasaan yang tidak seperti biasanya. Perasaan itu timbul saat foto
sang ayah tiba-tiba. Arya terus menunggu kepulangan ayahnya dengan wajah yang cukup cemas. Berkali-kali ia menghubungi sang ayah melalui telepon tetapi tidak ada jawaban. Arya terus menunggu ayahnya sampai ia tertidur di sofa ruang tamu. Pada malam itu juga dia terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara telepon yang berbunyi tak jauh dari sofa tersebut. Betapa shyoknya Arya setelah menerima telepon itu yang menginformasikan bahwa Ayahnya mengalami peristiwa kecelakaan dan nyawanya tak dapat diselamatkan. Arya sangat terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya.

            Hari-hari sepi telah ia lewati tanpa kehadiran ayah lagi, peristiwa kecelakaan yang menimpa ayahnya membuka matanya untuk mencari keberadaan seseorang yang telah menyebabkan Ayahnnya tak dapat diselamatkan. Arya baru saja mendengar informasi dari kepolisian bahwa mobil yang dikendarai Ayahnya menabrak sebuah Truk, dan pengemudi truk
tersebut masih sekarat disalah satu rumah sakit.

                 Pada hari itu juga Arya mengumpulkan sekelompok teman-temannya untuk mencari keberadaan orang itu dan membalaskan dendamnya. Salah seorang teman Arya bernama Dini merasa sangat simpati atas kepergian ayahnya yang menimbulkan bekas luka mendalam kepada Arya. Tetapi Dini tidak mendukung Arya untuk membalaskan dendamnya itu. Dia terus menasihati Arya untuk bisa mengikhlaskan kepergian ayahnya dengan tenang. tetapi Arya tak menghiraukan nasihat Dini.

            Pada suatu hari Dini mengajak Arya untuk mengunjungi sebuah lokasi yang bisa membuatnya tidak berlarut-larut dalam kesedian. Awalnya Arya menolak ajakan Dini. Tetapi dengan segala bujuk rayu sahabatnya itu akhirnya Arya menuruti permintaan Dini untuk mengunjungi sebuah lokasi terpencil di pinggiran kota, dimana banyak kumpulan pemulung dan anak-anak jalanan. Arya dan Dini terus berjalan di antara lorong-lorong sempit menuju sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang suami isri dan seorang anak yang masih kecil. Arya merasa bingung mengapa Dini mengajaknya kelokasi tersebut. Dia melihat sang Istri mentangisi suaminya yang terbaring sekarat di tempat tidurnya yang lembab. Lalu Dini mengatakan bahwa Bapak itu yang menyebabkan kematian ayahnya. Saat itu perasaan Arya bercampur aduk antara marah, kecewa, bingung, dan sedih bahwa dihadapannya saat ini berdiri seorang yang dianggap paling bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa ayahnya beberapa hari yang lalu. Arya langsung bergegas mengambil langkah untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi Dini berhasil meluluhkan hati Arya untuk mendengarkan alasannya mengajak Arya pergi ketempat itu. Arya terkejut saat Bapak itu membuka selimut yang ia pakai untuk membngkus kakinya yang telah buntung akibat kecelakaan itu. Dini mulai bercerita tentang riwayat Bapak itu yang hidup serba kekurangan, hanya Bapak itulah satu-satunya orang yang selalu mengais Rezeki untuk menghidupi anak dan istrinya. Tetapi keadaan telah berubah saat peristiwa kecelakaan yang menimpanya. Ia telah kehilangan mata pencaharian. Seringkali Bapak itu mengeluh atas apa yang menimpanya. Seakan-akan ia sudah tidak berguna. Perlahan hati Arya mulai luluh saat Bapak itu berkali-kali meminta maaf kepadanya, bapak itu mengatakan “seandainya keadaan dapat berubah, saya rela menggantikan posisi ayah mu, biar saya yang mati dan ayahmu dapat selamat”. Sejenak pikiran Arya mulai terlintas  pada saat malam, bagaimana peristiwa kecelakaan itu dapat terjadi, pada saat itu Arya sempat menghubungi sang Ayah melalui telepon, pada saat yang bersamaan pula Ayahnya tengah mengemudi mobil tersebut, kecelakaan tersebut sangat berkaitan erat ketika ayahnya tidak dapat menjawab panggilan itu, informasi dari pihak kepolisian pun telah menjelaskan bahwa telepon genggam milik ayahnya ditemukan dibawah kursi mobil. Betapa merasa bersalahnya dia telah berprasangka buruk terhadap Bapak itu, orang yang selama ini dianggap sangat bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa ayahnya. ternyata berawal dari ulahnya sendiri. Arya pun sadar dan menunduk mohon maaf kepada Bapak itu atas peristiwa kecelakaan yang menyebabkan orang itu sekaligus sang ayah yang sangat dia cintai.


            Arya sadar dengan peristiwa yang menimpanya belakangan ini, hari-harinya mulai diisi dengan kebaikan untuk membantu keluarga miskin itu dan seorang Bapak yang telah kehilangan mata pencahariannya. Arya juga menyumbangkan sebuah kursi roda kepada bapak itu untuk dapat bersemangat dalam menjalani hari-harinya yang selama ini dianggap hanya menyusahkan orang lain.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;